Cerpen

Tsunami Masa Lalu

“ Lulu Annajma Kamila.” Nama yang indah bukan ? itulah namaku , nama yang amat indah . Nama adalah do’a , semua orang ingin do’anya dikabulkan. Lulu Annajma Kamila artinya Mutiara Bintang yang Indah , karena itulah aku amat menyukai laut di malam hari . Rumahku lumayan dekat dengan pesisir pantai . Aku sangat menyukainya , sepertinya, aku menyukainya karna namaku saja , ya , aku amatlah menghargai namaku namun itu dulu sekarang tak tahu kenapa aku sedikit membencinya.

Aku mulai sedikit membenci namaku karena, kejadian 3 tahun yang lalu . Saat malam tiba aku belum tertidur aku sibuk memperhatikan bintang yang bersinar di langit , biasanya aku memperhatikan bersama sahabatku , Nisa , kami berdua amatlah menyukai bintang duduk di pesisir pantai , ombak kecil menyentuh kaki kami , hal itu amatlah indah ingin ku  kembali ke masalalu . Nisa yang lapar memutuskan untuk kerumah sebentar , untuk mengambil makanan ringan . Sekarang aku tinggal seorang diri menikmati udara malam yang sejuk , tiba-tiba , dari kejauhan aku melihat gulungan air yang lumayan tinggi aku yang warga sektar situ pun langsung panik aku buru-buru ke balai desa untuk memperingatkan semua orang yang sedang tertidur , jarak pesisir pantai denga balai desa cukup jauh , maka akupun berlari secepat-cepatnya sambil berteriak  “ Tsunami ! Tsunami ! Tsunami !” namun orang-orang masih sibuk terlelap ,sedikit lagi sampai di balai desa langsung ku ambil kentungan darurat  ada beberapa rumah yang penghuninya langsung bergegas pergi , hanya sebagian saja yang keluar dari rumahnya , aku dan warga yang terbangun segera mencari perlindungan sebelum semuanya terlambat bagi diri kami.

Sedih sekali aku mengingat hal itu , keluargaku , Nisa dan warga lainnya banyak yang tidak selamat , sekarang aku 13 tahun  dan aku sendirian hanya bekerja sebagai anak jalanan , aku iri dengan masyarakat disana , mereka hidup bahagia , mereka bersama-sama tidak sepertiku yang hanya seorang diri , aku sangat merindukan keluargaku , Nisa dan yang lainnya , apakah mereka selamat ? atau tidak ? tak ada yang tahu hanyalah kehendak tuhan yang dapat menyelamatkan mereka .

4 tahun kemudian …….

Sekarang aku 17 tahun. Ketika 17 tahun orang-orang biasa merayakan ‘sweet seventeen.’ Tetapi apalah dayaku yang hidup sebatang kara ini.

Pada suatu senja yang indah….

“Hmm.. udara yang segar.” Pikirku. Taman kota. Mengingatkanku tentang satu hal , senja di pesisir pantai sejuk , bila aku rindu dengan pesisir pantai aku akan ke tempat ini tempat yang menyenangkan pohon yang lebat , dahan yang kokoh , air mancur , bunga-bunga ,kupu – kupu ,burung – burung yang berkicau , betapa rindunya diri ini dengan tempat asalnya.

“ Brakk… aduhh…..” terdengar suara orang yang terjatuh , aku yang di sekitar situ pun refleks menengok . “boleh kubantu ? “ ujarku , aku sudah terbiasa membantu orang , yahh… walaupun sebagian orang menolak kebaikanku karena penampilanku yang … gitu deh . Anak perempuan yang tadi terjatuh didorong oleh temannya berterima kasih padaku , tiba – tiba temannya yang mendorongnya berkata “ siapa tuh ?! temen ? atau jangan-jangan sahabat kamu ? hahaha …. Emang sahabat kamu itu selevel sama kamu . hahaha.” Hei ! sepertinya aku kenal suara ini … suara orang yang mengejekku ini … Hey! Ini suara Nisa ! bagaimana dia bisa jadi seperti ini ?! Dulu dia adalah anak baik , atau … ini orang lain , argh! Sudahlah tak usah dipikirkan . Pikiranku kacau sekali.

Keesokan harinya

Aku masih memikirkan kejadian kemarin sore . Kalau memang itu Nisa pun , aku yakin dirinya yang dulu hanyut dibawa oleh air. Jika dirinya yang dulu hanyut dibawa oleh air apakah aku harus berenang dan menemukan dirinya yang dulu ? ya, itulah yang ingin kulakukan , yah… walaupun dia telah mengejekku habis-habisan tidak ada salahnya kok , tapi….. apakah dia masih ingat dengan diriku ? bisa iya , bisa tidak , tak ada yang tahu , ku serahkan semuanya kepada yang maha kuasa.

Sore hari , seperti biasa aku mencari udara segar dan Nisa , aku berharap dia kesini lagi . Tiba-tiba, ada seekor kucing yang mendekatiku , menggemaskan , matanya hitam pekat , berbulu hitam-putih , amat menggemaskan , kucing itu mengeong-ngeong sambil mendekati kakiku , sepertinya dia ingin aku mengikutinya , aku pun mengikuti kucing itu, kucing itu berjalan melewati setiap semak-semak , apakah ini kucing ajaib yang membawaku ke dunia magis ? atau kucing yang membawaku ke surga ? argh… tak tahulah. Tiba-tiba kucing itu berhenti , ya kucing itu berhenti , berhenti di pantai yang amat kukenal ! Ini sungguh ajaib ! aku tidak percaya dengan penglihatanku sekarang ! ini benar – benar … Woww ! aku tak sanggup berkata-kata saking bahagianya , bagaimana ini bisa terjadi ?! Aku sangat .. Sangat .. Amat .. Gembira ! “Apakah kamu senang ?” Tiba-tiba ada yang berbicara dan menepuk bahuku saking gembirannya aku refleks menjawab “Aku amat.. sangat.. Amat BAHAGIA.” Yup , itulah perasaanku , “Kalau begitu , nanti malam kita lihat bintang-bintang yang bercahaya yang berkombinasi dengan laut.” Orang itu berbicara . “ Ni…Ni…Ni …. NISA!” Aku terkejut , terkejut dan senang , perasaanku sore ini bercampur aduk . Rinduku kepada Nisa pun terselesaikan dan rinduku kepada pantai ini , Pantai Pangandaran . Juga terselesaikan .

Dirinya yang dulu hanyut dibawa oleh air,

Apakah aku harus berenang untuk menemukannya?

Tentu saja akan kulakukan,

Walaupun dia mengkhianatiku,

Karena aku ingin dia menjadi yang dulu lagi

 

~Najmi Layalia Setiawan~

V Ibnu Yunus

~21 Februari 2019~

 

 

BEST FRIEND ?

Namaku Nisa Alveyra.

Biasa dipanggil Al, Vey, Veyra. Umurku 16 tahun. Aku sekolah di Flosta International High School, Jepang. Ini tahun keduaku. Aku tinggal sendiri di apartemen yang nggak jauh dari sekolah. Aku tidak punya teman,

 

Dan aku kesepian.

>>>>

 

Flosta International High School, Japan…

Aku baru masuk gerbang sekolah, langsung disambut sama tatapan sinis dan bisikan-bisikan semua orang. Yaudah sih ya, aku mah nggak peduli, aku terus jalan di koridor dan ke kelas, risih tau gak sih disini, banyak banget yang ngegosip. Kaya’ nggak ada kerjaan lain aja.

Eh? Tapi kan dikelas sama aja ya? Yaudah deh, Al setrong kok :’)

 

At class….

Sampai di kelas,aku langsung duduk dan, seperti biasa, menulis. Bagiku menulis itu cara biar aku bisa mengabaikan mereka semua, termasuk biar nggak mikirin dia. Ya, dia. Gadis berambut coklat panjang yang lagi bareng “teman-temannya”. Namanya Kindness.

Aku dibenci satu sekolah, mungkin, gara-gara dia. Dia alasan utama kenapa aku dijauhin.

Aku iri sekali padanya, bagaimana bisa dia dikelilingi begitu banyak orang sementara aku sendirian disini.

‘Dialah yang membuatku sendirian, tapi mengapa dia tidak sendirian?

Padahal dialah orang jahatnya, tapi mengapa aku yang dibenci?

Mengapa aku menderita,  sedangkan dia bahagia? Apakah ini adil?’

Tes! Tanpa sadar air mataku jatuh, akupun langsung tersadar dari lamunanku.

‘Ayo Al, harus kuat! Jangan cengeng!’

Aku menguatkan diriku sendiri, disini nggak ada yang bantuin aku, jadi aku cuma bisa ngandalin diri sendiri doang.

Sampai aku bertemu dengan ‘dia’

 

Kantin, Flosta International High School….

Aku duduk di tengah kantin, dimana suara-suara mereka yang ‘menghujatku’ kedengeran dengan jelas. Dan lagi-lagi aku sendirian.

Tiba-tiba ada yang duduk di depanku, ’Aneh.’  Pikirku. Iyalah, orang nggak pernah ada yang mau duduk bareng aku. sedih ya? iya tau sedih kok :p

“Apa aku boleh duduk disini? Aku sudah kehabisan tempat, tenang saja, aku nggak akan ganggu kok.” Katanya.

”Eh?I-iya.”  Aku gugup, ini pertama kalinya ada yang mau duduk denganku setelah sekian lama. Haruskah aku senang? mungkin.

“Oh ya, perkenalkan, namaku Izumi Sunny. Kelas 11-6, dari Jepang. Kalau kau?”

“Nisa Alveyra, kelas 11-6 juga, dari Indonesia.You can call me veyra, nice to meet you Sunny.” Perasaanku sekarang campur aduk. Bingung harus apa, senang? Kaget? Atau apa?

“Panggil saja aku Rancy, dan kita sekelas? Waah..kebetulan sekali! Mulai sekarang kita berteman ya!~ “

 Aku nggak percaya, ternyata masih ada yang mau temenan sama aku, kukira satu sekolah membenciku. kan emang satu sekolah benci kamu vey

Rancy, dia pendek, rambutnya hitam terus lurus sebahu, berkacamata. Dia seru juga ternyata, tapi…

 

‘Apa dia benar-benar tulus berteman denganku?’

 

Kelas, Flosta International High School

Aku sedang merapikan buku-bukuku, lalu tiba-tiba dia datang, si tukang rusuh Rancy.

“Veyra, kau tinggal di apartemen Ao kan? Aku tinggal di perumahan sora, kita searah. Pulang bareng yuk?”  Kurasa tak buruk juga, baiklah, kuterima tawarannya. ”Ok.”

Perumahan Sora, rumah Rancy..

“Mau mampir dulu?” –Rancy

Eh? Emang boleh? Aku kan’ baru kenalan tadi siang?

“Eh?Hmmm..gimana ya..”

“Ah udahlah, kelamaan kamu! Ayo ikut aku! Keburu hujan nih..” Rancy langsung narik lenganku dan lari, otomatis aku juga ikut lari lah.

“E-eh tunggu dulu dong! Jangan lari-lari!” Asal tau aja, aku nggak kuat lari-larian. tapi ini rahasia ya!

>>>

 

Beberapa saat kemudian….

“Hah..hah..akhirnya sampai. Capek juga ya!” –Rancy

“Kan kita lari! Ya capek lah! Hah..hah..” –Aku

“Ehehehe..”  Terserahlah, aku capek. Punya temen kok gini amat ya…-_-

‘Tapi kan dia satu-satunya yang mau temenan sama kamu Al!’  batinku.

Iya juga ya, yang penting ada yang mau temenan deh.

“Nah, ayo masuk!” Dia menarikku untuk masuk rumahnya, rumahnya bagus juga, simpel tapi nyaman. Aku suka.

“Di rumah ini cuma ada aku, sama kadang-kadang tetangga aku main kesini. Orang tuaku sering keluar kota, jadi jarang pulang. Kamu haus kan? Mau jus jeruk?  Duduk aja dulu.” –Rancy

“Eh? Oke.” –Aku

Aku melihat-lihat sekeliling, rumah Rancy nyaman ya, andai aku punya rumah yang nyaman juga. Aku iri.

“Hei.” Tiba-tiba ada yang nepuk pundakku, tapi aku nggak kaget dong

“Apa sih, mau bikin aku kaget ya?”  Sudah kuduga! Pasti Rancy! Karna gak mungkin hantu.kecuali kalo emang ada hantu

“Iya, tapi kamu nggak kaget ya? Lain kali aku pasti bikin kamu kaget!” Fix, dari sekian banyak orang kenapa harus dia sih yang kenalan sama aku?

‘Udahlah, syukurin aja. Daripada kamu sendiran lagi, iya gak?’

Iya sih, tapi….ah udahlah syukurin aja deh.

“Jadi…kita mau ngapain sekarang?” –Aku

“Hmm…iya, ya, mau ngapain ya ?” –Rancy

PLAK! Ya terus ngapain ngajakin mampir??? Ih, kesel deh.

“Ah! Ke rumah tetangga aku aja yuk! Dia murid Flosta juga loh. Se angkatan sama kita.Yuk!” –Rancy

“Yauda deh, yuk!” –Aku

Kali aja dia mau temenan sama aku, kan lumayan. Hehe

>>>

Rumah tetangganya deket kok, iyalah, samping rumahnya Rancy kok. Dan akhirnya sampailah kita di sebuah rumah tingkat dua bercat putih dengan pagar yang juga putih, pintu putih, bel putih, semuanya serba putih. Kecuali roda mobil yang warnanya item.

Eh, kok kaya’ kenal ya rumahnya? Hmm…aku lupa! Ah, gak tau ah, peduli amat.

Dan pintu rumah pun diketuk dengan bar-bar oleh tersangka, Rancy.

“Kindy, Kindy, keluar dong…” Ya ampun, kan gausah gitu juga kali -_-

Dan akhirnya keluarlah yang dicari-cari, gadis yang dipanggil ‘Kindy’ tadi.

Eh, tunggu, itukan…

KINDNESS!!??

What the..

KENAPA HARUS DIA SIH?? Dari sekian banyak orang yang dipanggil Kindy kenapa harus dia? Dari sekian banyak orang yang jadi tetangga Rancy kenapa harus dia?

Duh, pengen nagis aja rasanya. Sebentar lagi pasti Rancy bakal ngejauhin aku, ya soalnya karna Kindness. Kindness penyebab aku dijauhin semua orang, inget kan? Aku benci banget sama dia.

“Apaan sih? Aku lagi nyantai tau! Ganggu aja..” –Kindness

“Hehehe…Aku mau kenalin temen nih, anak Flosta juga kok! Namanya Veyra, Vey, ini Kindness. Kindness, ini Vey.”

“Eh? Namaku Kindness..” –Kindness

“Alveyra.” –Aku

Kindness senyum, iya, tapi fake smile 🙂 Why? Karena dia itu benci aku, aku juga gak tau kenapa, gak jelas emang.

Pasti sebentar lagi Rancy bakal jauhin aku, karna pengaruh Kindness pastinya. Orang tuaku aja lebih percaya sama Kindness daripada aku. Parah emang 🙂

Kalo gini mah mending aku pulang aja deh.

“Eh, Rancy, aku pulang duluan aja ya. Baru inget kalau cucianku penuh, kapan-kapan aja ya main ya.” –Aku

“Eh? Aku anterin ya? Aku penasaran sama apartemen kamu, Kindness juga ikut aja biar bisa kenalan. Mau kan?” –Rancy

“Boleh deh.” –Kindness

Rancy nengok ke aku, “Gapapa kan?”

Gimana nih? Pengen nolak ga enak juga. Udah gitu Rancy tampangnya melas banget. Gapapa deh, aku kan udah biasa. “E-eh? Y-ya-yaudah deh ga-gapapa.” Aku maksain senyum. “Yey! Aku ganti baju dulu ya, Kindness juga. Ayo Vey!” Dia girang banget deh kaya’nya.

Ruang tamu rumah Rancy…

Aku lagi nungguin Rancy siap-siap. Duh, gimana nih? Aku takut banget sama Kindness, aku takut, Rancy bakal ngejauhin aku.

Padahal aku udah seneng ada yang mau temenan sama aku, kenapa sih Kindness harus ada? Apa salah aku sampai dia benci aku? Kok kaya’nya gak adil banget ya, dia yang salah aku yang dibenci.

Aku pengen curhat, ceritain semua masalahku. Masalahnya, siapa yang mau dengerin? Temen-temen aku semuanya udah diambil sama Kindness, orang tuaku juga.

“Vey? Lagi bengong ya? Ayo! Aku udah siap nih.” Aku nengok, Rancy, udah ada disamping ku dengan pakaian yang lebih rapi. Sedih ya, bentar lagi dia pasti bakal ninggalin aku, padahal kita baru ketemu.

>>>

 

Di perjalanan…

“Jadi, Vey, kamu tinggal sama siapa di apartemen itu?” –Rancy

“Sendiri. Orang tuaku lagi ada urusan. Jadi aku sendiri deh.” –Aku

“Berarti sama kaya’ aku ya? Orang tua kamu sibuk ya?” –Rancy

“Ya..gitu deh. Hehe..”

“Tapi…kenapa kamu lebih milih tinggal di apartemen? Terus,  apartemen Ao kan, sewanya mahal. Bukannya dulu pas SMP kamu tinggal di perumahan Ichi ya? Atau…jangan-jangan rumor itu bener ya? –Kindness

Kindness. Padahal yang nyebarin rumor itu dia sendiri. Gosip yang gak bener, padahal dia tau kejadian aslinya, dia ada di tempat itu, tapi kenapa dia nyebarin gosip yang 100% beda banget sama yang terjadi, sama yang dia liat?

“Kenapa? Kok diem? Atau jangan-jangan emang bener ya rumor itu?”

Aku cuma bisa nunduk sambil nahan tangis. Karna mau gimanapun juga pasti tetep Kindness yang bakal menang. Akhirnya tetep aku yang bakal ditinggalin, karna semua orang percaya sama Kindness.

Kindness dikenal sebagai anak yang baik hati, rajin, dapat dipercaya. Sesuai namanya, Kindness yang artinya sang kebaikan hati, si anak emas kesayangan semua orang. Sedangkan aku, aku siapa? Si anak pendiem dari kelas 11-6 yang biasa-biasa aja.  Aku bisa apa memangnya?

“Emangnya rumor apaan sih?” –Rancy

“Kamu gak tau? Rumor tentang si anak baru itu loh..” –Kindness

“Oh, aku tau! Rumor tentang Alveyra anak kelas 11-6 yang katanya nyogok kepsek biar naik kelas itu kan? Dulu, pas kelas 10 dia masuk cuma 3 bulan abis itu ilang gak ada kabar kan? Aku tau kok. Dan aku gak percaya.”

“Eh?”  Aku noleh ke dia, “Kamu beneran gak percaya?” dia ngangguk, terus bilang,

“Iya, aku gak percaya. Alesannya simpel. Gak ada bukti. Kita gak tau kan dia setahun bolos karna apa? Terus belom tentu juga dia nyogok kepsek, kalo misalnya dia emang pinter, terus bisa ikut ujian dang naik kelas, gimana? Lagian, kalo semisal itu emang bener….”  Dia nengok ke aku sebentar, terus senyum, senyumnya tulus. Abis itu dia lanjutin pidato omongannya,

“Setiap orang berhak di kasih kesempatan  kan? Kalo kucing aja punya 9 nyawa, kenapa manusia enggak? Anggap nyawa itu kesempatan, kalo misalnya udah pergi, masih ada yang lain lagi kan? Yang penting di manfaatin biar gak pergi lagi.” -Rancy

Waw. Aku tercengang.

Tapi bener juga sih, Kalau kucing aja punya 9 nyawa, kenapa manusia gak punya 9 kesempatan?

Kindness diem. Mungkin dia bingung mau bales apa. Rasanya akhirnya aku bisa menang dari Kindness, buktiin kalau aku gak sendirian.

Akhirnya Kindness pulang dengan alasan ada janji, jadi tinggal aku sama Rancy deh. Rasanya lega gak ada Kindness.

“Btw, Ran, makasih ya tadi udah bantuin aku.”

“No problem. Sesama teman harus saling membantu kan?

“Kita temen?”

“Iyalah, emang apaan? Musuh? Nggak mungkin lah.”

Sekian lama akhirnya ada juga yang mengakui aku temen. Aku terharu :’)  Masih ada yang mau temenan sama aku, artinya bukan satu sekolah benci aku kan?. yaa..mayoritasnya sih

Seenggaknya masih ada yang percaya sama aku.

Kitapun lanjut jalan. Di tengah jalan, aku kesandung batu dan..

BRAK!

>>> 

 

“Eh?” Aku terbangun di kamarku, bukan di tengah jalan. ‘Jadi itu cuma mimpi?’

Yaahh… 🙁  Iya sih, gak mungkin banget ada yang mau temenan sama aku, sampe di belain lagi. It’s Impossible!

‘Gak mungkin seorang Nisa Alveyra punya “teman”

Gak mungkin ada orang yang gak percaya sama Kindness

Gak mungkin ada orang yang percaya sama aku

Sadar Al! itu cuma mimpi! Yang gak mungkin jadi nyata…

“Hiks..” Lagi, aku menangis.

Disini, di kamar ini. Tempat yang jadi saksi bisu atas semua yang terjadi padaku.

Satu-satunya tempat dimana aku dapat menagis pilu. Satu-satunya tempat dimana aku dapat mencurahkan isi hatiku. Kamarku.

‘Udah Al, ini hari pertama masuk sekolah. Seenggaknya jangan sampe mata kamu bengkak gara-gara nangis. Kan gak lucu.’

>>>

 

Kelas, Flosta International High School..

Aku seperti biasa, menulis. Mengabaikan mereka semua, termasuk Kindness.

Tiba-tiba ada yang berdiri di depan ku. Seorang gadis pendek berkacamata, dengan rambut hitam yang lurus sebahu.

‘Kok kaya’ Déjà vu ya?’

“Konnichiwa! Watashi no namae wa Izumi Sunny desu! Anata no namae wa?”

“Eh?”

 

“Setelah sekian lama aku akhirnya melihatnya lagi,

Sebuah senyuman…

Yang menemanimu saat kau sendiri,

Yang mendukungmu saat kau jatuh,

Yang setia berada di sisimu saat semua orang pergi,

Senyuman yang mencerahkan hari-hari mu.

Senyuman tulus seorang sahabat

Tapi, apa senyumanmu itu untukku?”

-Alveyra

 

End